Selasa, 21 Desember 2010

My beloved Mother...

My beloved Mother...

Kutulis semua tentangnya dalam kesederhanaan,
Mengisyaratkan dia,
Mengisyaratkan hatinya...

Aku mengenalnya bagai sayap putih seorang malaikat,
sayap indah yang membawaku terbang arungi hidup...

Aku mencintainya melebihi jiwa yang tertanam ditubuhku, dan menjaganya bagai mimpi abadi ditidurku...

Kini...
Dia telah renta, telah rapuh termakan waktu
Wajahnya telah keriput,matanya kian sayu
Sering kali dia terdiam dan tak dapat ku baca hatinya...

Dia begitu tegar, tak bersedih didepanku
Tapi disudut sana dia menangis karena sakitku...
Dia begitu bijak dan tak pernah ragu
Tapi disisi yang sama, dia berkorban untukku...

Sering tak ku lihat sedihnya, terkadang ku abaikan bahagianya...
Sering tak ku perhatikan inginnya, terkadang tak ku pedulikan lelahnya...

Hingga ku tersadar, dia tak akan berubah,
karena cintanya adalah keabadian,
meski raga tak selamanya kan bersama...

mÖm...i LOVE u sO mUch...

Gores demi Gores Pena Terlukis...

Bila nanti...
Saat ragaku tak mampu berdiri,
Bacalah ini dipembaringan malamku,
atau lantunkan lagu-lagu yang pernah kucipta untuk mu...

Kemarin...
Ku akui dihadapMu,
terlalu sering kubuat tawar menawar dengan Mu.
Ku katakan dengan kehinaanku,
teramat sering aku bersalah.

Hari ini...
Ku tulis surat sebelum surga melihatku,
atau sebelum neraka memintaku...
Ku titip cinta lewat gores demi gores pena terlukis kata...

Agar diakhir masa penantian,
tak ku rasa sesal...
Karena tak sempat utarakan
bahwa aku begitu mencintai...

Ma Grand-mere...

Desember datang lagi,
Desember kedua tanpa mu disini,
Semua telah berbeda....
Ruang dan Waktu yang tak lagi sama,
Kau telah pergi jauh...
Ke tempat dimana putih kan tetap putih...

Setahun yang lalu,
Masih kulihat bias sinar harap mu tentang indahnya masa depanku,
Masih ku rasa kehangatan dan kasih sayangmu,
Mengajarkanku,menasehatiku
dengan cara2 kuno mu...

Setahun yang lalu,
Kau lambaikan tangan saat aku beranjak pergi mengejar pelangi,
Menantiku kembali kerumah dengan setia...

Setahun yang lalu,
Kutawarkan banyak Pilihan pada Tuhan,
dan tak satupun Tuhan Pilih...
Namun DIA berikan yg terbijak buat semua...
Walau aku tak disana,
saat kau memanggil namaku untuk terakhir kalinya....

Setahun telah Berlalu,
Kami hanya bisa mengenangmu...
Merindukan kekunoan mu...kasih sayangmu...
Mengingatmu!
Dan Desember tetaplah Desember...

Kini...
Kami bingkiskan doa untukmu,
Salam sayang dari Kami yang Sangat sangat dan Sangat mencintaimu...
Kerinduan dari Bumi untuk mu...
Dan Kami tahu, Kau bahagia disana...di rumah Bapa...di Surga...

* RIP *
MY BELOVED GRANDMOTHER
20 DESEMBER 2008

Cinta dari sepasang Belangkas/Tachypleus sp.

Linn, begitu aku memanggil gadis itu. Gadis sederhana yang pintar.
Matanya selalu memancarkan harapan. Aku bahagia pernah memilikinya.

"Kak, coba lihat deh. Keren banget nieh hewan. Bentuknya unik dan selalu berpasang-pasangan",ucap Linn sembari menarik tanganku mendekat ke hewan itu.
"Oh...ini Tachypleus sp. Linn. Bahasa daerahnya Belangkas atau mimi-mintuna. Unik emang",jawabku.
"Loh...kakak tahu?",tanya Linn penasaran,matanya membulat dan kulihat betapa lucu wajahnya.
"Laa...iyalah Linn...kakak kan Mahasiswa Biologi gitu looh...",jawabku sambil berlari menjauhinya mengejar ombak di tepi pantai.

"Kak....kakak tahu banyak tentang hewan ini?".
Linn berlari mengikuti ulahku.

Aku merebahkan tubuhku diatas pasir putih dan memandang jauh pada bulan Purnama.
Linn pun merebahkan tubuhnya disampingku.
"Kak....",rengeknya.

Aku memencet hidung bangirnya sejenak dan mulai bercerita tentang belangkas seadanya.
"Linn sayang, binatang itu udah ada sejak 400juta tahun lalu. Hewan yang romantis dan setia. Seumur hidup cuma punya 1 pasangan dan musim kawinnya saat purnama. Kalo jantannya mati,betinanya juga ikutan mati..gitu juga sebaliknya. Bisa dimakan,tapi jangan kebanyakan,ntar mabuk loh..."
Linn mengangguk tanda mengerti. Aku tahu dia mulai menyukai hal itu.

Ini perjalanan terakhir kali bersama Linn, menghabiskan separuh malam di pantai dan berteman debur ombak.
Tapi Linn sekarang telah tiada. Linn meninggal 6 bulan lalu akibat gagal ginjal.
Aku menatap awetan sepasang belangkas yang kami miliki bersama.
Malam ini, mengingat Linn dan kesukaannya terhadap Belangkas memacu semangatku untuk menyelesaikan tugas akhir penelitianku terhadap hewan itu.

Tentang Aku...

Pagi yang cerah saat aku terkejut mengingat waktu,
Bukan kutangisi gelap pekat mimpi saat mataku terpejam,
aku tidak tersandar dalam khayalan,
karena yang kuhadapi adalah kenyataan!

Dan kepada angin yang meniup kulitku perlahan,
atau matahari yang masih bersembunyi dibalik awan kelam,
kuceritakan dongeng yang tak dapat mereka dengar..
Bukan tentang siapapun juga,
tapi tentang diriku...

Tentang aku yang berjalan dibawah sinar,
meronakan abu-abu pada kisah yang mereka anggap hina,
memutihkan persekian detik waktuku yang tersisa...

Tentang aku yang meletakan harapan di atas singgasana Tuhan,
walau aku tak butuh kereta kencana untuk kesana,
akan kutempuh dengan kedua kaki yang membiru tersandung batu,
hanya untuk membingkai hidup dengan bunga-bunga mawar kiriman Surga.

Tentang aku yang tak ingin lagi memaki kehidupan,
aku telah lelah berlayar,
kutepikan perahu jiwaku,
kutepikan didermaga yang Engkau janjikan...
Kutepikan walau tak seorang melihatnya...

Untuk teriakan hati yang tertahan,
untuk tangisan yang kusimpan,
untuk dera amarah...untuk berjuta emosi ku yang manusia,
aku bersumpah...aku tidak takut kematian.
Malaikat selalu berjaga untuk mengawal aku di dunia,
atau
untuk menjemputku kembali ke Nirvana...

20 Mei 2010
~Dianna Firefly~

Selasa, 18 Mei 2010

DAN...

Rinai hujan mengingatkan aku
pada tangis,
pada luka,
pada kerapuhan...
Disini cinta yang kau ikrarkan suci,
namun berulangkali kau sakiti..

Temaram senja menghantarku
pada lamunan,
pada gundah,
pada kehampaan...
Disini cinta yang kau janjikan abadi,
namun berulang kali kau khianati..

Dan
bila suatu hari aku pergi,
aku tak perlu kau tangisi..

Dan
bila kau sadari aku tak disini,
biar semua jangan kau sesali..

Dan
bila aku tak jua kembali,
kuharap akhirnya kau mengerti..

Karena aku tak sanggup lagi...
Membayar cinta dengan air mata !

ONCE MORE CHANCE

Ini hari ketiga aku berada di ruangan ini dan hanya berdiri terpaku untuk kesekian kali disamping tempat tidur putih. Dia terbaring tak berdaya, seorang pria muda yang tampan. Garis wajahnya sempurna, hidungnya yang kokoh, kulitnya yang bersinar saat matahari menerpa masuk lewat ventilasi ruangan ini — namun sekali lagi dia tidak berdaya. Tak ada orang yang begitu intens mengunjunginya disini. Hanya sekali pernah ku ketahui, seorang wanita muda yang sebaya dengannya menaruhkan batu Aqua Marine dalam genggamannya. Mungkin hanya aku yang menghabiskan banyak waktu untuk berdiri tanpa peran ditempat ini.

Sekali waktu aku bertanya pada Tuhan. Mengapa Tuhan ingin mengambil nyawanya. Tapi saat itu, Tuhan hanya menjawab “kau hanya punya waktu sedikit untuk membawanya tiba ditempat ini”. Dan saat itu, aku meninggalkan Tuhan dengan sesal — ini hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya, yaitu melawan kehendak Tuhan yang telah menciptakan aku dari kekekalan cahaya.

Aku mengepakkan sayap putihku. “ ah, kali ini pun tidak. Aku harus pergi. Tapi bukan ke Surga, karena Tuhan pasti akan menagih tugasku”, ucapku di hati. Aku akan tinggal beberapa saat di awan dan berharap agar Tuhan tidak menginginkan mendung. Sebelum aku sempat terbang, seperti sebuah aliran energi menarik ku dari belakang. Aku segera menoleh untuk melihat semua kemungkinan yang akan terjadi. Aku semakin mendekati energi tersebut dan “ ah...Aqua Marine, Jemarinya semakin menggenggam erat batu ini”. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Beberapa saat, semenit, sejam, dua jam.....dan terus berlalu. Tak ada, tak ada satu pun yang aku pikirkan. Pria itu pun tak bergerak. Namun aku tahu, ruh-nya masih terbenam pada raga-nya yang tak berdaya.

Aku memutuskan meninggalkan ruangan ini dan mengunjungi Tuhan. Aku terlibat pembicaraan serius dengan-Nya.
“Aku tidak bisa Tuhan, Maaf. Aku ingin Kau membuatnya hidup”, ucapku pada-Nya sebelum Dia menanyakan.
“Gabrieliva, waktu-mu hanya 4 hari lagi”.
“ Lalu mengapa kau ingin mengambil nyawanya?”.
“ Dia yang meminta padaku, Gabrieliva. Dia yang selalu meneriakkan doa untuk kematiannya. Aku mengabulkannya, karena aku melihat semua tentangnya yang tak dapat dilihat oleh-mu”.
“ Tuhan, Kau tahu bahwa aku tak pernah menentangmu. Aku tak pernah lalai membawa ruh-ruh yang meninggalkan dunia pada-Mu. Tapi kali ini...`”, suaraku tercekal, “Ruh-nya sangat berbeda. Aku tak bisa melakukannya. Tolong sekali ini lepaskan aku dari Tugas ini”.
“Kau Ku-ciptakan dari kekekalan cahaya. Dan Kau tahu bahwa semua yang Ku-inginkan tak pernah buruk”, ucap-Nya dengan kewibawaan. “ Pergilah untuk tugas itu”.


Aku terbang kemana aku suka. Ini tugas terberat bagiku sejak aku diciptakan. Setelah lama tak ada tempat yang dapat memberi ketenangan. Aku memutuskan untuk menemani pria itu di ruang rawatnya. Saat aku datang, Pakaiannya telah digantikan oleh para perawat Rumah Sakit berdinding putih kebiruan ini. Wajahnya kian memucat hari ke hari.

“Gabriel, bagaimana mungkin aku mengambil nyawamu”.

Aku tertunduk lemas. Ini hari keempat. Dan aku tak punya sedikit pun kehendak untuk membawa ruh-nya. Tiba-tiba sesuatu menyadarkanku. Batu Aqua Marine terlepas dari tangannya. Aku tahu ruh-nya telah terlepas dari raga-nya. Dia mungkin tak mampu menahan lebih lama lagi. Aku tak ingin melihat. Tidak!!!
Tiba-tiba sebuah kelembutan menyentuh bahuku. Aku menghadap ke arahnya.
“Ya...”, kataku padanya sebagai salam perkenalan.
“ Kau malaikat pelindungku?”, Tanyanya padaku.
“ bukan. Aku yang ditugaskan Tuhan untuk mengambil nyawamu”.
“Oh...”, desahnya tertunduk sedih.

Ruh itu masih mengenggam batu Aqua Marine yang tak lagi tergeletak di Lantai sembil tertunduk. Warna Ruh-nya suram. Warna sebuah kesedihan yang tersirat keinginan tak tercapai.
“ Maaf. Kita harus pergi...”, ajakku.
“ Ah... bisakah tidak sekarang “, pintanya.
“ Untuk apa? “, tanyaku lagi.

Dia tak menjawab. Aku menyadari pembicaraan ini. Untuk pertama kali aku terlibat pembicaraan panjang dengan ruh yang akan ku bawa menghadap Tuhan.

“ Tak seorang pun yang datang untuk menjengukmu disini selain gadis berambut pirang yang meletakkan batu aqua marine itu. Jadi ku pikir, kerabatmu telah mengikhlaskan kepergianmu”, lanjutku.
“ Aku tak punya keluarga. Aku tak pernah di akui oleh keluargaku. Mereka menghidupiku dengan materi. Tapi mereka tak pernah meraba perasaanku. Temanku hanya ombak dan angin. Hanya mereka yang merasakan kesepianku”, suaranya meninggi seiring dengan warna ruhnya yang kian menyala tanda sebuah emosi yang tak tertahan.
“Lalu, gadis itu?”.
“ Dia Janeth. Gadis kecil yang kutemui di Pantai saat aku berusia 9 tahun. Satu-satunya temanku di dunia ini. Dia kemari mengembalikan batu aqua marine yang dulu pernah ku beri padanya. Saat gadis kecil itu kehilangan harapan karena penyakit Leukimianya. Batu itu batu harapan, kesehatan dan ketenangan”,jelasnya.
“ Aku tak punya kuasa untuk membiarkanmu berlama-lama melayang-layang di bumi”, kataku.
“ Iya...aku tahu. Tapi aku ingin kau menyampaikan pada Tuhan permintaanku ini”.
“ Apa itu? Katakan segera”.
“ Aku ingin bertemu ibu dan mengembalikan batu ini padanya”.
“Tidak, kau tidak bisa. Ruh-mu takkan kembali ke raga-mu dan ...... ah, ini sangat sulit”, ucapku yang mengecewakannya.
“Tapi ibu membutuhkan batu ini. Aku tahu ibu sangat menderita sekarang. Kau harus membantuku memohon pada Tuhan, atau aku akan meminta malaikat pelindungku saja”.
“ Tidak...malaikat pelindungmu tak lagi punya tanggungjawab atas ruh-mu”.
“Jadi...?”,tanyanya sedih.
“ Kau tahu dimana ibumu? Kali ini aku tidak akan memberitahukan pada Tuhan. Karena Dia pasti sudah tahu apa yang aku lakukan. Jika kau tahu dimana ibu-mu, maka kita akan kesana. Tapi kau harus menempati raga oranglain untuk itu”.
“Aku tidak tahu dimana ibuku. Kami terpisah saat aku berusia 4 tahun. Keluargaku adalah keluarga yang berantakan. Ayah tidak pernah mencintai ibu. Pernikahannya dengan ibu adalah perjodohan maut kaum bangsawan. Ayah tak pernah mengakuiku yang benar adalah anaknya. Saat kakekku meninggal dan semua kekuasaan ditangannya. Ayah mengantar ibu ke pembuangan di Selatan Amerika. Ibu tak pernah kembali sejak hari itu”, cerita Gabriel panjang.
Aku menangkap semua yang dikatakannya dan samar aku mengerti maksud dari kata-kata Tuhan saat itu.
“Ibu satu-satunya manusia yang menyayangiku. Tapi ayah memisahkan kami. Ayah kemudian menikahi gadis yang usianya tak jauh dariku dua tahun lalu. Aku tak pernah menemui makna kehidupan selama bertahun-tahun. Wajar jika Tuhan ingin aku kembali pada dunia setelah kematian lewat kecelakaan itu, karena aku sudah terlalu sering meminta padanya”.
Aku tersenyum padanya kemudian berkata, “Kita akan menemui Ibu-mu. Tapi kau harus memilih raga mana yang akan kau tempati”.
Ruh itu mengangguk dan beberapa saat mengatakan padaku bahwa dia akan menggunakan raga Janeth sahabat satu-satunya.



Kami tiba ketempat pembuangan dimana dulu Ibunya berada. Namun sulit bagi Gabriel yang berada dalam tubuh Janeth untuk mengenali sang Ibu. Aku tak dapat berbuat banyak karena aku hanyalah malaikat. Janeth tak menyadari apapun ketika ia tertidur lelap dan Gabriel menggunakan tubuhnya. Hampir memasuki hari keenam dan kami belum menemukan ibunya. Saat malam tiba memasuki hari ketujuh, Gabriel mengatakan padaku bahwa dia merasakan bahwa Ibunya berada disekitar jembatan itu. Gabriel dalam tubuh Janeth pun berjalan mencari di sekitar jembatan itu. Benar saja, dia menemukan seorang wanita tua dan bertubuh kumuh sedang meringkuh dingin dibawah jembatan. Dia memeluk wanita tua itu sambil menangis. Wanita yang adalah ibunya itu sangat terkejut dan bingung saat tubuh Janeth merapat ditubuhnya sambil menangis. Lama mereka hanya terdiam dan kemudian Janeth mengeluarkan batu aqua marine milik Gabriel dan meletakkannya ditangan wanita tua itu. Wanita tua itu menangis. Air-air berbias permata membasahi pipi keriputnya. Wanita itu mengenali batu aqua marine yang tergeletak ditangannya. Ia memeluk Janeth begitu erat dan dari jauh kudengar Gabriel mengucapkan bahwa ia begitu mencintai dan merindukan ibunya. Wanita itu mengangguk.

Pemandangan ini tak pernah kusaksikan sebelumnya. Aku telah tidak menghiraukan Tuhan dan sekarang berada disini untuk menemani ruh yang mencari kebahagiaan diakhir perjalanannya.
Samar-samar kudengar lonceng surga berdentang, pertanda bahwa Tuhan mengingatkanku bahwa hari ketujuh telah hampir usai. Kupanggil dengan nada keabadian ruh Gabriel dan dia mengerti. Kami meninggalkan tempat itu dan wanita tua yang menggenggam aqua marine. Janeth telah berada ditempat tidurnya sebelum aku membawa ruh Gabriel dengan warna yang cerah pada Tuhan.
Saat aku menyelesaikan tugas itu dan beranjak keluar hampir melewati pintu surga, Tuhan memanggilku, “ Gabrieliva, apakah sekarang kau mengerti anakku?. Aku mengangguk dan tersenyum kearahnya.

Aku mengepakkan sayapku lagi tanpa beban menuju singgasana awan. Dari langit kupandang seluruh sisi bumi. Kulihat prosesi pemakaman Gabriel di bumi. Tak banyak yang datang, hanya beberapa kerabat dan gadis berambut pirang, bahkan ayahnya pun tak datang. Sungguh menyedihkan bila Gabriel terus hidup. Tuhan benar, bahwa Tuhan takkan berkehendak buruk walau manusia memiliki kehendak bebas dan memilih apapun yang mereka mau dalam hidupnya.

Rosemary... ( Versi singkat )

Aku menghela nafas panjang. Sampai juga akhirnya di tanah pertiwi setelah 3 tahun berada jauh di Negari Kincir Angin untuk menyelesaikan study S2-ku.
Ingin rasanya cepat-cepat sampai dirumah dan memeluk ayah bunda.
Aku melirik jam tangan bercorak polkadot yang telah 3 tahun kukenakan.
Tiba-tiba perasaan lain merayapi rongga dadaku. Aku teringat pada Anby, pacarku...ah lebih tepatnya Mantan Pacarku. 3 tahun yang lalu Anby memberikan jam tangan ini sebagai ucapan selamat atas penerimaanku sebagai Mahasiswi Erasmus University Rotterdam.

"Buatmu My Rosemary",ucapnya sambil tersenyum. "Setiap kali kamu melihat jam ini,maka kamu akan mengingat aku dan menyadari kalau waktu-waktu pasti berlalu sedang aku menunggumu dengan setia di Indonesia".

Yah...mungkin Anby sudah lupa dengan manisnya untaian demi untaian kata yang telah dia ucap padaku.
3 tahun adalah waktu yang lama untukku mempertahankan cinta kami. Tapi Anby tak mampu setia pada tahun kedua.

Pada Mei, awal musim semi di Belanda, Anby menelponku dan memberitahukan bahwa dia akan menikah bulan itu.

"Maaf Rose, aku mungkin mengecewakanmu. Aku tidak bisa menunggumu selama ini dan menjaga cinta kita. Aku tak dapat melakukan hal bodoh dan mengharapkan apa yang aku harapkan darimu dulu".

"iya...Rosemary tak akan bersemi di Belanda musim ini. Semoga kau bahagia. Tuhan memberkati".

Rosemary memang tak pernah bersemi tahun itu. Tapi di tahun berikutnya Rosemary pasti bersemi.



Note :
Rosemary dalam cerita ini adalah Aku, gadis yang diceritakan.
Namun, kita mengenal tanaman Rosemary yang dapat ditemui di negara-negara empat musim.
Rosemary merupakan sejenis herba yang banyak digunakan dalam masakan negara-negara Barat. Rosemary merupakan sejenis tumbuhan herba yang kecil dengan daunnya yang berbentuk jarum seperti daun pine. Rosemary mempunyai bunga yang berwarna ungu kebiruan dan di negara empat musim ia akan berbunga sepanjang musim bunga dan musim panas. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan yang rimbun dan mempunyai aroma yang kuat. Nama tumbuhan ini sangat menarik yang berarti Embun dari laut.
Di Negara barat rosemary merupakan simbol kepada persahabatan dan kasih sayang. Rosemary sering dijadikan hadiah kepada pasangan yang baru menikah.

Sekadar untuk diketahui: Menurut kepercayaan tradisi lama orang kristian, rosemary akan hidup selama 33 tahun dan sehingga ia mencapai ketinggian Yesus sebelum ia mati. Mereka juga percaya daun rosemary yang diletak dibawah bantal ketika tidur akan menghalang mereka dari diganggu oleh roh jahat. ( Gak tahu juga bener apa gak yang ini ).

Senin, 17 Mei 2010

Aku diantara Mereka yang tidak Percaya...

Sekitar empat belas tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku
melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar dua puluh sentimeter di bawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh -- sangat aneh.

Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan dan
melecehkan kemungkinan Cinta Tuhan yang tanpa Pamrih. Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian pada akhir kuliah, dia bertanya dengan nada agak sinis, "Menurut Pastur, apakah saya dapat menemukan Tuhan?".

"Tidak", jawabku dengan sungguh-sungguh.

"Oh", sahutnya. "Saya sangka, justru hal itulah yang Pastur ajarkan".

Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu".
Tommy mengangkat bahu, lalu pergi. Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku yang bijak.

Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan aku bersyukur. Namun, kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia
yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi. Namun, matanya
tetap bercahya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas.

"Tommy! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu
sakit keras?", tanyaku langsung.

"Oh ya, saya memang sakit keras. Saya mendeerita kanker. Waktu saya tinggal beberapa minggu lagi".

"Kamu mau membicarakan itu?".

"Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?".

"Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi
kematian sudah menjelang?".

"Ini masih mendingan",Jawabnya, "daripada jadi lelaki berumur lima puluh tahun, namun mengira bahwa minum-minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang 'utama' dalam hidup ini". Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku.

"Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan dapat menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Pastor itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh".

"Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu
menyebar sampai ke organ-organ vital, saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga. Tapi tak terjadi
apa pun. Lalu, saya terbangun pada suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu".

"Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting.Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang kau cintai bahwa kau mencintai mereka. Jadi, saya memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya".

Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya.

"Pa, aku ingin bicara."

"Bicara saja".

"Pa, ini penting sekali".

Korannya turun perlahan delapan sentimeter. "Ada
apa?"

"Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu."

Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu.
"Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya".

"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah,"sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya,
dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan
mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat kepada saya".

"Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya".

'Tommy",aku tersedak. "Menurutku, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu
menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi
milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih".

"Tommy",saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah Teologi Iman
dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?".

Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja hidupnya tidak diakhiri dengan kematiannya, hanya berubah. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata manusia atau yang pernah dibayangkan. Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali.

"Saya tak akan mampu hadir di kuliah Bapak", katanya.

"Saya tahu, Tommy".

"Maukah Bapak menceritakannya untuk saya? Maukah
Bapak menceritakan pada dunia untuk saya?".

'Ya, Tommy. Saya akan melakukannya".

-John Powell,S.J-



Aku menutup buku Chicken Soup pemberian dari seorang sahabatku saat SMA pada hari ulang tahunku 2007 silam. Entah sudah berapa kali aku membaca kisah ini. Selama ini kisah ini hanya berkesan saja bagiku, mengharukan--ya begitulah. Aku tidak pernah tahu bahwa kisah ini justru adalah bagian dari rencana Tuhan terhadapku. Aku tidak pernah menemukan orang-orang seperti Tommy sebelumnya. Tapi kemudian, akhir-akhir ini, aku menemukan mereka. Dan aku menganggap mereka saudara-saudaraku sendiri. Dan aku sedikit menjadi dapat bersikap memahami mereka.

Aku tidak mengatakan bahwa aku paling benar karena aku percaya pada Tuhan. Tentu mereka punya alasan sendiri mengapa mereka tidak percaya.

Seringkali dalam perenungan malamku dan pada setiap doaku, aku meminta pada Tuhan untuk menampakkan diri kepada mereka yang tidak percaya agar mereka menjadi percaya. Aku juga sering menanyakan pada Tuhan mengapa Tuhan hanya dekat dan sangat dekat pada orang-orang yang percaya pada-Nya, membuat mujizat kehidupan besar dan sangat hebat pada orang yang sangat taat dan berpengharapan kepada-Nya seperti pada beberapa temanku yang 'religius' layaknya kisah Emilly Rose dan kisah dua orang buta dalam Kitab Suci. Mengapa bukan pada orang-orang yang tidak percaya pada Tuhan? Mengapa Tuhan membiarkan mereka tidak percaya?
Tentu hal ini adalah salah, karena aku menantang Tuhan..mengatur-ngatur Tuhan untuk berbuat seperti inginku...dan mungkin aku terkesan tidak percaya pada Kuasa-Nya.

Semua karena aku tak bisa berkata pada mereka, "Sobat...itu Tuhan!" (sambil menunjukkan tempat dimana Tuhan berada). Aku tak bisa memberi bukti yang dapat terlihat mata, terasa lidah, dan tersentuh tangan. Aku hanya bisa berkata,"Ini hal IMAN".
Tapi aku peduli. Aku ingin mereka merasa Kasih yang sama dan tidak terlambat menyadari-Nya. Aku ingin mereka sedikit memberi hati untuk menyadari-Nya meninggalkan asumtif-asumtif logika yang bukan cara berpikir benar tetapi cara berpikir terstruktur. Bahwa mendengar suara hati dalam ketenangan dan kesunyian adalah penting.

Aku terdiam beberapa saat sore ini. Aku terpaku mengingat perjalanan hidupku. Saat aku terus bertanya-tanya dan meragukan peran serta kasih Tuhan dalam hidupku. Mengingat betapa rumitnya 'takdir' yang harus aku lewati di dunia ini sampai pada suatu masa aku meninggalkan Dia. Dan ku pikir hidupku akan jauh lebih bahagia jika aku tak perduli, jika aku tanpa Tuhan. Tapi ternyata aku salah, aku semakin rapuh dan tak berpengharapan. Aku mengumpulkan sisa-sisa usaha pencarianku dan Tuhan memelukku kembali.

Rencana Tuhan dalam hidupku sunguh tak terpikirkan. Mulai dari saat aku dititipkan pada seorang ibu yang hebat di dunia fana ini dan sampai saat ini. Aku tahu mata-Nya terus mengawasiku memberi semua yang kubutuhkan bukan yang kuinginkan.

Begitulah setiap waktu, aku terbawa untuk terus berpikir dan merasakan karena aku hidup. Mungkin hal yang tidak begitu penting hingga hal yang sangat penting. Aku terlelap sore ini hingga terbangun mendengar handphoneku berbunyi. Mama menelponku!

Love, Thanks and Apologize

" Kalau ada orang kasi sesuatu ambil dengan tangan kanan,jangan lupa bilang terima kasih, ingat juga untuk memberi "

" Kalau salah ya minta maaf, kalau benar ya pertahankan"




Begitulah Kalimat-kalimat yang terucap berulang dari mulut mama saat aku kecil dan masih terus kuingat hingga sekarang.
Sebuah bentuk pengajaran yang sempurna oleh orangtua namun menjadi tidak sempurna jika sang anak lupa menerapkannya. Kemudian pertanyaannya adalah apakah kita sudah mempraktekkannya?
Bukankah sangat penting untuk dipraktekkan?
Mengasihi dalam kehidupan kita harus diterapkan tidak hanya melalui perkataan namun juga perbuatan yg benar (bdk. 1Yoh 3:18 dan Roma 12 : 9-16).
Karena Kasih adalah hal terbesar yang berasal dari ALLAH dan akan menjadi buah-buah berkat (bdk. 1Yoh 4:16, 1Pet 3:8-12, Gal 5:22-23, Rom 13:10)

Mari kita mulai dari hal terdekat dalam hidup kita yaitu orangtua kita.
Apakah selama hidup kita, kita pernah mengungkapkan kasih kita pada mereka?
Seberapa sering kita mengatakan "i love you,mom..dad"?
Seberapa sering kita berbuat sesuatu yang menyenangkan hati mereka?
Pernahkah kita mengatakan "thanks for all mom..dad!"?
Pernahkah kita meminta maaf segera setelah kita mengecewakan mereka?
Atau kita belum pernah sama sekali mengatakan dan melakukannya.
Ada pepatah Cina berbunyi demikian : Untuk memahami perasaan orangtua kita,kita harus membesarkan anak-anak.
Yaa...bagaimana perasaan saudara jika saudara menjadi orangtua yang melihat dan mendengar bahwa anak saudara melupakan hal-hal baik yang telah saudara ajarkan pada mereka?
Jawablah pertanyaan itu nanti setelah saudara menjadi orangtua karena sekarang saya mengajak anda untuk sedikit berpikir apakah saudara akan mengatakan dan melakukannya setelah ini atau tidak.
Mengingat kita telah banyak belajar dari pengalaman oranglain yang tidak sempat mengatakan dan mengungkapkan bahwa mereka sangat mencintai orangtua mereka, belum sempat mengucap terima kasih atau maaf sedang orangtua kita akan terus menua dan akhirnya layu ditelan waktu.
Mengasihi orang tua adalah kebutuhan dasar manusia,maka hal ini perlu dan harus (bdk. Perintah Allah ketiga, Kolose 3:20, dan Efesus 6:2-3). Maka sebelum terlambat Go home and Loves your family (bdk. Mother Theressa Quote).


Jika kita telah melalui tahap sebagai seorang anak maka kita juga akan melalui tahap dimana kita berada diluar bersama orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan kita. Kita menyebut orang-orang diluar diri kita dengan sebutan sesama.
Kita pun harus mengasihi sesama untuk menciptakan suatu harmonisme dan perdamaian (bdk. Mat 22:39-40,Yoh 15:9-17, Gal 6:1-10)

Setelah menilik dari orang terdekat, kita akan melihat apakah kita sudah menerapkannya terhadap sesama dalam masyarakat?
Dunia saat ini semakin kehilangan buah-buah kasih dan kita diharuskan dengan bijak menilai zaman.
Di dalam masyarakat, "kegiatan mengasihi" dapat kita lakukan melalui hal-hal kecil (bdk. Mat 25:45 dan Mat 18:15) dan selalu membuka diri untuk memaafkan kesalahan sesama baik teman atau lawan (bdk. Mat 18:21-35 dan Luk 6:27-36).
Marilah lihat seberapa banyak orang-orang yg menderita karena miskin, anak-anak terlantar dan lapar, dan kematian karena kemiskinan, mereka semua butuh uluran tangan kita. Letakkanlah tangan kita diatas tangan mereka. Karena seperti yang dikatakan Mother Theressa tidak ada satupun orang yang layak mati dalam kesendirian. We are needed by them.
Dan isu yang tidak kalah heboh adalah peperangan yang menewaskan banyak jiwa,memusnahkan banyak sumber daya alam dan harta benda. Semua hal tersebut dikarenakan arogansi diri hingga terus saling menghakimi dan tidak mau memaafkan.
Setiap hati harus memunculkan perdamaian..


Saya mengingat sesuatu yang berharga sebelum terlelap malam ini.
Bapa yang Maharahim, bantulah saya menjadi Anak Terang yang mampu mengasihi. Maafkan saya karena menyakiti hati Putera'Mu Kristus Tuhan dan Terimakasih atas semua yang Engkau beri dalam hidupku.
Amin!

Pelangi sehabis Hujan

(Tulisan ini kudedikasikan untuk mereka yang berteman dengan hujan)


Selasa, 11 Mei 2010
Kulirik jam di hp Nokia 1202-ku, aaah...sudah menunjukkan pukul 12.45 WIB. Hanya 15 menit lagi aku harus tiba dikampus untuk mata kuliah SPH3 atau embriologi.
Hujan semakin deras mengguyur kota Pontianak. Aku menatap jauh pada rinai-rinai hujan dari balik jendela kos-ku. "Haruskah tidak kuliah?",tanyaku dalam pikiran.

Tiba-tiba,lamunku terpental pada masa-masa yang lalu. Hujan memberiku banyak pengalaman dan mengajariku banyak hal terutama rasa "gelap dan dingin".

Beberapa tahun silam, aku pernah dan sering menemani ibuku ke ladang. Ladang tempat ibu menanam sangat jauh,butuh 2 hingga 3 jam tiba disana dengan berjalan kaki. Tidak ada akses kendaraan ke tempat itu. Ladang ditengah hutan yang belum banyak terjamah dan melewati sungai ataupun rawa.
Seringkali hanya aku dan ibu kesana,itupun hanya jika aku sedang libur. Ibu hanya memintaku menemaninya, Beliau sama sekali tidak pernah memintaku bekerja..hanya menemani. Jadi pekerjaan menanam,menyiangi hingga memanen lebih banyak dikerjakan oleh ibu sendirian. Sedangkan waktuku lebih banyak dihabiskan untuk bermain di dangau (pondok), mengejar belalang, bermain di parit sawah,atau bahkan tertidur lelap karena kelelahan.

Pernah suatu hari, aku, adik sepupuku laki-laki, dua kakak sepupuku dan ibu pergi ke ladang. Masa itu tepat masa jagung-jagung siap di panen. Betapa riang hati karena akan ada acara bakar jagung di ladang.
Tapi siang itu malah hujan turun dengan sangat deras hingga banjir. Keadaan menjadi dingin dan gelap. Pohon-pohon bergoyang hebat diterpa angin..suara riuh angin menghantam pepohonan pun terdengar. Sungguh tidak menyenangkan. Setelah berjam-jam menunggu,hujan tidak juga mereda. Kami memutuskan untuk pulang. Aku merasa sangat dingin dan takut, aku menduga saudara-saudaraku juga merasa demikian. Hanya ibu yang tetap tenang mengawal kami di belakang. Sampai di suatu sungai kecil yang biasa kami lewati ternyata airnya telah meluap menghanyutkan jembatan yang biasa kami pijak untuk lewat. Ibu berusaha membawaku menyebrang melewati sungai karena aku tidak bisa berenang,sedang kedua kakakku memapah adikku dipunggung mereka. Tapi kami tetap tidak bisa lewat karena arus yang begitu deras. Akhirnya kami mencari jalan lain dan akhirnya tembus di kampung tetangga. Begitupun kami harus tetap berjalan kira-kira 2jam untuk sampai kerumah. Sesampai dirumah, kami semua merasa lega walau kelelahan tetapi tetap bercanda-canda menceritakan kejadian itu pada nenek dan anggota keluarga lain.

Saat kita kecil, kita kerap bermain hujan (meski aku sangat jarang dapat dihitung hanya beberapa kali) walau orangtua kita melarang keras. Kita melanggar hanya untuk bisa bersenang-senang bersama teman-teman. Hujan memberi kehidupan,namun dapat membinasakan.
Aku tidak pernah tahu,bagaimana perasaan dan kondisi ibu saat Beliau harus seorang diri di ladang ketika hujan pada masa itu.
Apakah takut? Apakah dingin? Apakah sakit?
Aku tidak tahu bagaimana perasaan beliau pulang kemalaman dari ladang dan pernah juga mengalami pengalaman supranatural karena hujan?
Dan yang aku tahu,diluar sana pun banyak orang yang bekerja keras mengumpulkan pundi-pundi rezeki di medan yang keras. Mereka berteman dengan hujan. Mereka berjuang untuk hidup dan menghidupi oranglain dengan cara yang benar atau tidak benar. Hujan bukan lagi hal yang menakutkan bagi mereka yang mengadu nasib tidak seberuntung para pejabat dan karyawan kantor. Di luar aku ini,masih banyak orang yang dingin karena hujan, banjir karena hujan, mati karena hujan karena kehidupan yang tidak layak.
Tapi kuyakin, selalu ada pelangi sehabis hujan...
Semua adalah proses yang mengajari kita banyak hal. Bahwa hal yang kita takuti tidak selamanya buruk. Dalam kekosongan kita diajarkan untuk melawan rasa tidak percaya diri, rasa takut dan putus asa...
Selalu ada makna dalam setiap proses, baik yang memberi kehidupan atau membinasakan.

13.07 WIB.
Hujan mulai mereda. Setengah berlari aku menuju kampus agar tidak kebasahan. Dosen muda sudah cuap-cuap didepan kelas. Akhirnya aku kuliah juga. Sekarang aku tidak pernah takut lagi berhujan-hujan ke/pulang dari kampus atau dalam kegiatan apapun. Karena aku sudah pernah melewati keadaan paling tidak menyenangkan saat hujan. Hujan tidak mematikan semangatku untuk kuliah,tidak akan pernah! Catatan ini kuselesaikan setelah kuliah. Mungkin tidak bermakna bagi oranglain,tapi bermakna bagiku...

Cinta Putih ...

( Inspirated by : Seorang Kakek pribumi dan Nenek kebangsaan Japang di Retox Acin, Kuala Mandor B, Kalimantan Barat )

Saat mentari terbenam, sepasang manusia itu akan duduk bersama menikmati sunset dari beranda rumahnya yang mengarah ke pantai.
Pemandangan indah yg dapat kulihat, tentang kesetiaan.
Wajah keduanya telah keriput, bahkan tubuh telah gemetaran.
Tapi tangan keduanya tak pernah lepas bergenggam saat menghabiskan sore..
Anak-anaknya tak tinggal dengan mereka. Anak-anak tersebar dikota,bahkan ada yang tinggal jauh di negeri kincir...

Tapi mereka menikmati masa tua, berdua...disebuah desa kecil di pesisiran...
Sungguh, bukti sebuah kesetiaan..

Culture yang berbeda antara sepasang manusia ini bukanlah masalah yang berarti. Seorang wanita berkulit putih,bertubuh pendek, bermata sipit...yah wanita jepang yang tertinggal saat zaman pengusiran Jepang dr Indonesia...kini telah mampu berbahasa daerah pesisir itu dengan baik, Menikah dengan seorang pria yang mungkin lebih muda darinya...yang menyelamatkan dan menyembunyikan wanita Jepang itu di lorong bawah tanah rumah ayahnya.
Yah, inilah bukti ketulusan itu..
Sejak peristiwa itu mereka saling mengasihi hingga akhirnya sama-sama renta seperti saat ini...

Pernah, sang wanita jepang renta mengalami luka dikakinya, dan tak mampu brjalan..lelaki renta dgn sabar merawatnya. Hari minggu tiba, mereka harus ke gereja, dan wanita jepang renta itu tak mampu brjalan, lelaki renta itu menggendongnya ke atas motor tua, mereka beribadah.
Inilah bukti pengorbanan cinta.
Dan bukti pengabdian mereka pada Tuhan..

Dan matahari sangat beruntung,karena setiap sore...kakek renta yang menggenggam tangan seorang wanita jepang renta akan menikmati sunset bersama...

Si Cacat itu Adikku, Ya Ellan adalah Adikku!

Dubbb..!
Aku membanting pintu kamarku sekeras mungkin dan berteriak keras, "Bapak dan Ibu memang gak akan ngerti maunya Allan...sudah...pakai saja uang itu untuk membeli kursi roda si cacat perusak mimpi!"
Ini bukan pertama kalinya aku berbicara sekeras ini, sudah berkali-kali. Dan berkali-kali juga Ibu menangis karena ucapan-ucapan kasar ku itu.

Hari ini seharusnya aku sudah di Jakarta bersama teman-teman untuk mengikuti Lomba Basket tingkat SMA seJABOTABEK.
Tapi lagi-lagi keinginanku hanya menjadi sebuah asa belaka. Bapak dan Ibu tidak punya uang. Uang yang mereka tabung dan dijanjikannya untuk ku, direncanakan untuk membeli kursi roda.

Dari luar kudengar ibu berkata dgn terbata-bata "Dia saudaramu,Allan..."

Aku mengambil gitar,menyandangnya dan membuka pintu kamarku.
Didepan pintu tsb,berdiri Bapak dan Ibu. Aku berjalan kearah mereka dan berkata tegas, "Aku...tidak sudi punya saudara cacat seperti dia!"

Aku berlalu dari tempat itu,menuju pintu utama. Sekilas kulirik sicacat itu, dia menangis. Ini pertama kalinya kulihat dia menangis, setelah berpuluh kalimat kasar kulontarkan tentang dia..mungkin kalimatku ini begitu mendalam. "Aaah,aku tidak peduli",jeritku dalam hati....

Aku melangkah menjauh dari rumah menuju sebuah taman yang sering sekali kami kunjungi saat kecil. Aku menghempaskan tubuhku diatas kursi tua bercat putih. Kuambil gitarku...Dalam sepi, sesempurna mungkin kupetikan senar-senar gitar menjadi sebuah melodi. Tiba-tiba aku tersadar... "Shit, kenapa lagu ini,lagu kesukaan si cacat!".
Kubanting gitar keatas rumput hijau.
Aku termenung dan bayang-bayang wajah si cacat yang sedang menangis terus menghantuiku.


Aku dan Ellan adalah saudara kembar. Terlahir dalam keluarga sederhana. Ayahku seorang buruh pabrik swasta dan ibu membuka usaha jahit kecil-kecilan. Aku dan Ellan benar-benar mirip dan sangat akrab. Ketika SD kami bersekolah ditempat yang sama. Aku akui, Ellan... adik kembarku itu pintar dan multitalent. Ia senang music, melukis, basket, dan camping. Tapi saat itu, tak pernah terbersit rasa iri dalam pikiranku padanya. Ia juga seorang adik yg baik,sering membantuku mengerjakan tugas2ku,mengajarkanku bermain gitar dan basket,dan selalu mendukungku untuk ikut dalam perlombaan-perlombaan. Sampai akhirnya peristiwa buruk itu terjadi...

"Allan...aku sudah mencarimu kemana-mana,ternyata kau disini",ucap suara lembut yang kukenal itu suara Magda.
Suara itu membuyarkan lamunku. Segera kucari arah suara itu dan kulihat Magda datang dgn tergesa'gesa dan wajahnya memerah terbakar sinar mentari.
Aku bertanya padanya, "Ada apa mencariku? Kamu disuruh ibu untuk merayuku pulang kan?".
Magda tak menjawab,ia menarik tanganku agar aku segera beranjak dari tempat itu. Tapi aku bertahan. "ayo pulang, Bapakmu sekarang di rumah sakit",katanya keras.
Aku memandang matanya,"kamu boleh berbohong agar aku mau pulang,tapi bukan tentang hal ini. Saat aku keluar dari rumah, bapak baik2 saja",ucapku keras dan membuatnya tersentak hingga tak lagi menarik'narik tanganku.
Ia terdiam sejenak kemudian berkata,"Penyakit Jantung Bapakmu kumat, kalau kau tak mau pulang,ya sudahlah. Aku sudah memberitahumu".
Magda meninggalkanku, sementara aku terus bertanya apakah itu benar? Aku segera membereskan gitarku dan berlari mengikuti langkah Magda. Kupandangi wajahnya,tampak bahwa ia sangat kesal. Ia tidak sedikitpun menoleh kearahku.

Magda, sahabat baikku dan Ellan sejak kecil. Ia gadis pintar dan baik hati. Aku sangat menaruh perhatian padanya,tetapi ia tak tahu. Sepanjang perjalanan kerumahku kami tak saling bicara.
Sesampai dirumah, hanya ada si cacat. Magda kemudian mempersiapkan makanan dan pakaian untuk dibawa ke rumah sakit.
Sedangkan aku menuju ke arah si cacat dan berkata,"Ellan...apa belum cukup kau membawa sial dirumah ini". Aku pergi meninggalkan Ellan dan kemudian mengambil barang-barang yang telah disiapkan Magda, dan aku berangkat ke Rumah Sakit.

Sesampai di rumah sakit, aku segera mencari ruang rawat Bapak.

No.67!
Aku memasuki ruangan itu dan mendapati ibu yg sedang menangis. Saat melihatku, ibu berdiri dan langsung memelukku.
Aku memandang tubuh Bapak yang terpasang alat-alat medis.
"Ayah harus dioperasi,nak. Tapi kita tak memiliki uang sebanyak itu. Bapak juga menderita kanker paru-paru",ucap ibu terisak.

Aku terdiam, sama sekali tidak mampu mengerti. Mengapa semua keburukan ini terjadi dalam keluarga kami?

Malam itu, aku dan ibu menginap di Rumah sakit. Ibu menjaga Bapak didalam,sedang aku tertidur dikursi tunggu diluar ruangan.
Saat aku dibangunkan, ternyata hari telah pagi. Sekitar pukul 05.45 WIB. Aku harus mendengar kabar buruk dari perawat yang membangunkanku, "Ayahmu meninggal dunia".
Aku segera berlari masuk keruangan dengan hati yang hancur. Kulihat ibu menangis keras sembari memeluk jasad bapak.
Aku berdiri terpaku, airmata tak mampu keluar dari mataku.
Bagaimana mungkin bapak pergi secepat ini?
Bagaimana mungkin Bapak pergi sebelum aku sempat membahagiakannya?
Bagaimana mungkin bapak pergi sebelum aku sempat mengucap maaf padanya?
Siapa yang akan bersenandung khas Sunda lagi setiap sore dirumah?
Siapa yang akan memanggil ayam-ayam pulang kekandang lagi?
Siapa yang menemani Ibu ke Gereja setiap minggu?
Dan bapak belum pernah menyaksikan aku bermain basket...

Aku memeluk ibu. Aku mengerti, ibulah yang paling merasa kehilangan.
Dan di dalam pikiranku hanya satu, Aku sangat membenci Ellan, dia menyebabkan kematian Bapak. Tidak seharusnya Bapak meninggalkan kami secepat ini kalau bukan karena Ellan dan Kursi rodanya...
Aku membenci Ellan.

Ibu memintaku untuk pulang lebih dulu agar dapat mempersiapkan ibadah Requiem di rumah.

Hanya butuh 30 menit aku sudah sampai dirumah. Ku lihat Ellan dan Magda sedang duduk diteras rumah. Melihat kedatanganku,Magda berdiri dan menghampiriku yang masih diatas motor. Tapi aku tidak menghiraukan Magda.
Aku turun dari motor dan berjalan ke arah Ellan, aku tarik kerah bajunya dan kutatap dia dekat,"Bapak sudah meninggal,sekarang menangislah sepuasmu!".
Satu kepalan tangan kuhantamkan keras ke pipi Ellan. Ia jatuh tersungkur ke lantai dari tempat duduknya. Aku terus memaki sicacat itu. Magda berlari kearah Ellan dan berusaha mengangkat tubuh Ellan ke kursi. Sangat sulit bagi Magda karena Ellan tidak memiliki kaki kanannya.
Aku menarik rambut Ellan dan berusaha memukul wajahnya lagi, Magda menahanku dan berteriak "Cukup Allan, aku tidak mengira kau ini iblis. Apa Ellan harus mati agar kau merasa puas. Ellan seperti ini karena .........".
Teriakan Magda tercekal oleh remasan kuat tangan Ellan. Aku melihat semua itu, sedikit berpikir mengapa riak wajah Ellan berubah khawatir. Hingga aku berlalu dari tempat itu, Magda tidak meneruskan ucapannya.

Aku masuk kedalam rumah dan beberapa menit kemudian Magda mengikutiku. Kami membereskan ruang untuk ibadah dan segala kelengkapannya bersama,tapi kami tidak saling bicara.

Sirene mobil ambulan memecah keheningan. Aku segera berlari keluar. Sepintas kulihat Ellan berusaha berdiri dengan sebelah kakinya dan dia menangis. Sungguh malang tapi aku sudah tak perduli. Aku membantu penduduk menurunkan Jasad Bapak dari dalam ambulan. Seketika rumah kami telah ramai oleh para pelayat.

Malam datang dan semua berlalu begitu cepat. Ibu dan Ellan duduk berdampingan disamping jenasah Bapak. Magda sibuk menerima para pelayat dan mengatur keperluan ibadah bersama Bibi Lusia,saudara kandung ayah. Aku terpaku disudut ruangan. Kurasakan kesedihan begitu dalam mencabik-cabik hatiku.
Bapak pergi begitu cepat sedangkan aku belum dapat bertanggungjawab untuk keluarga ini. Ibu yang pastinya semakin tua, Ellan yang masih memerlukan perawatan untuk penyakit Ginjalnya, dan Aku yang tahun ini akan lulus SMA, kami masih membutuhkan peran Bapak dan lebih dari itu semua kami masih memerlukan Bapak untuk mencintai dan mendidik kami anak-anaknya. Aku belum mampu jika peran Bapak digantikan olehku. Dari jauh kupandangi wajah Ellan. Seandainya keadaan dan hubungan kami masih normal seperti dulu. Ellanlah yang pertama kali akan kupeluk dan kubagikan kegalauan ini. Tapi..ini semua kesalahan Ellan. Dia yang membunuh Bapak.
Aku menitikkan air mata sama seperti Ellan dan Ibu disana. Airmata yang tak akan membuat Bapak hidup kembali.

Sinar mentari menerobos masuk melalui jendela yang tepat berada diatas kepalaku. Tanpa sadar semalam ternyata aku tertidur. Aku segera bangun dan bersiap untuk pemakaman ayah. Aku masuk keruang dimana Jenasah Ayah ditempatkan. Aku cukup kaget saat kulihat Ellan telah berada disana mendahului aku. Aku tak jadi masuk kesana. Sesampai di pintu aku berpapasan dengan Magda.
"Allan,Pastur menunggumu didepan",ucapnya tanpa memandangku. Aku berlalu tanpa menjawab.

Pemakam Bapak berlangsung dengan lancar. Tidak lupa aku merekam semua prosesi tersebut dengan handycam yang kupinjam dari temanku,Hendry.
Selesai pemakaman kami kembali ke rumah bersama beberapa orang kerabat. Sesampai dirumah, Aku segera melepaskan penatku dengan berbaring diatas kursi bambu buatan bapak yang diletakkan disamping kanan rumah. Angin sepoi-sepoi membuatku mengantuk. Dari kejauhan kudengar langkah seseorang ber-kruk semakin mendekatiku. Aku tahu itu Ellan maka aku berpura-pura tidur lelap. Suara itu berhenti tepat disamping kursiku. Kurasakan tangan membelai rambutku dan terasa pula satu dua tetes air mengenai pipiku. "Ellan menangis?",tanyaku dalam hati dengan keadaanku yang masih pura-pura tidur.
Ellan kemudian melangkah lagi. Kira-kira 1 meter dariku terdengar sebuah suara keras seperti sesuatu membentur lantai. "Ellan jatuh,aku harus menolongnya",sontak aku bangun tapi kulihat Paman Amin suami bibi Lusia sudah berada disana untuk mengangkat Ellan. Ellan memang tak mampu lagi berjalan walau dengan bantuan tongkat kruk akibat dari penyakit ginjalnya yang semakin parah 2 tahun terakhir ini.

Ellan memang mengidap penyakit ginjal sejak kecil. Oleh karena itu ia jarang sekali mengikuti perlombaan-perlombaaan walau sebenarnya ia sangat berbakat. Fisiknya yang lemah membuatnya sering sakit-sakitan. Maka Ellan sangat mendukungku jika aku ingin mengikuti berbagai event. Ellan selalu bersedia mengajariku berlatih basket dan gitar,menemaniku latihan basket dibawah terik matahari di lapangan SD atau duduk berjam-jam untuk berlatih gitar bersamaku. Dan aku ingat, saat kelas 6 SD seusai Ujian Nasional, ada pertandingan basket antar sekolah yang diadakan di ibu kota propinsi Jawa Barat. Saat itu, setelah sekian kali aku mengikuti seleksi pemilihan pemain basket di sekolahku. Akhirnya aku lolos menjadi pemain cadangan untuk Kompetisi basket antar sekolah mewakili sekolahku. Aku masih ingat raut wajah gembira Ellan saat aku kabari perihal itu dan dia sangat mendukungku. Tapi sayangnya,aku tidak bisa mengikuti event itu karena tepat dihari pelaksanaan aku jatuh sakit terserang malaria dan harus dirawat di RS. Aku sangat kecewa dan sedih,terlebih sehari sesudahnya aku mendengar bahwa Ellan mengalami kecelakaan yg merenggut sebelah tungkai kakinya.

Aku membenci Ellan sejak kami masuk SMP. Saat itu Ellan masih mampu mengikuti kegiatan belajar mengajar walau dengan kondisi cacat. Aku dan Ellan didaftarkan oleh Ayah di sekolah yang sama. Setiap hari aku dan Ellan berangkat bersama ke sekolah dan aku yang memapah Ellan di perjalanan. Awalnya aku selalu ikhlas bersama dan menjaga Ellan di sekolah. Tapi aku mulai risih saat teman-teman di sekolah mengejek-ngejek kami karena ketidaksempurnaan Ellan. Masih jelas ditelingaku ejekan “ Ellan Cacat...Ellan Cacat...kembarannya kok Cacat” dari temen-teman di sekolah. Sejak itu aku malu jika bersama dengan Ellan. Terlebih karena aku tidak sebebas teman-teman lain karena harus menjaga Ellan di sekolah. Banyak kegiatan sekolah yang tidak aku ikuti karena mempertimbangkan siapa yang menjaga Ellan jika aku tinggalkan dan biaya perawatan Ellan membuat kami harus lebih berhemat. Pernah juga pacarku memutuskan hubungannya denganku, karena tidak betah jika bertemu di sekolah aku selalu membawa Ellan. Belum lagi teman-teman yang tak mau mangajakku dalam kelompok belajar karena tak mau satu kelompok dengan anak cacat. Masih banyak lagi kejadian buruk selama aku dan Ellan bersama. Akhirnya aku benar-benar muak dengan keadaan dan rutinitasku. Tapi aku bersyukur, saat memasuki kelas 3 SMP, Ellan terserang demam panas tinngi dan membuat dia bisu total. Ellan berhenti sekolah dan usailah penderitaanku untuk menjaga Ellan disekolah.

***

Setahun sudah berlalu sejak Bapak meninggal. Sekarang aku sedang menjalani masa kuliah di salah satu universitas di Bandung. Ibu mengiyakan permintaanku untuk kuliah namun aku harus indekos di kota tersebut dan bertahan dengan keterbatasan financial.
Tiga bulan sekali aku pulang ke rumah. Suasana rumah sangat berbeda, saat aku pulang tak pernah ada Ellan dirumah. Ibu mengatakan bahwa Ellan sudah bekerja. Aku tak pernah menanyakan dimana Ellan bekerja karena ibu sudah menceritakan bahwa Ellan menyenangi pekerjaannya dan ibu sudah membelikan Ellan kursi roda itu.

Suatu hari di Bulan Desember pada minggu kedua. Magda menelponku dan memintaku pulang ke rumah. Aku pun mengiyakan permintaan Magda.
Aku tiba di rumah, namun Ibu tidak dirumah. Lalu ku temui Magda dirumahnya. Saat aku masuk kulihat Magda sedang terisak. Aku bertanya padanya mengapa dia menangis. Magda memelukku dan masih terus menangis. Aku sangat canggung dengan perilakunya yang tidak biasa itu.

Pelan Magda mulai angkat bicara, “ Ell...Ellan sakit, Allan. Ginjalnya tak berfungsi lagi”.
Aku tersentak dan melepas pelukannya. “ Hanya itu alasan kepentinganmu hingga kamu meminta aku pulang meninggalkan ujian?”, ucapku sambil kedua tanganku memegang bahunya keras.
“Tapi Ellan koma...!!!”.
Aku terdiam beberapa saat dan Magda mulai mereda tangisnya. “ Dimana Ellan dan Ibu sekarang?”, tanyaku.
“ Di rumah sakit tempat Almarhum Bapakmu dirawat dulu”.
Aku berdiri merapikan tasku dan beranjak dari tempat itu, tapi Magda menahanku.
“ Mau kemana?, tanyanya padaku.
“Kerumah sakit”.
“ Duduklah dulu, aku mau menceritakan sesuatu padamu”, katanya lagi.
Aku kembali duduk disampingnya sambil memegang kepalaku. “ Apa itu ? ceritakan cepat!”.
Magda terdiam cukup lama seolah sulit untuk berkata-kata.
“ Mungkin ini kesalahan kami yang tidak menceritakan padamu dari dulu. Tapi aku pikir ini belum terlambat. Aku takut tidak ada yang menceritakannya padamu. Aku tahu kamu sangat membenci Ellan. Tapi Ellan tidak pantas kamu benci. Dia cacat begitu karena menyayangimu”.

Aku memalingkan wajahku kearah Magda dan ia mengangguk padaku.
“Kecelakaannya bermula saat dia ingin menggantikanmu menjadi pemain basket pada Kompetisi Basket antar sekolah 7 tahun lalu. Ellan sangat mengerti keinginanmu yang sangat besar untuk mengikuti perlombaan itu. Kamu ingatkan waktu itu kamu dirawat di rumah sakit dan tidak bisa ikut perlombaan itu? Ellan berniat untuk menggantikanmu karena wajah kalian sama dia berpikir tak ada yang tahu. Setelah menjengukmu kerumah sakit, Ellan meminta ijin pada ibu mu untuk pergi ketempat perlombaan itu. Tapi di perjalananan sebuah truk menabrak sepedanya dari belakang. Ellan terpental di jalanan dan mobil lain menggilas kaki kanannya. Dia tidak pernah tiba di perlombaan itu”.
Aku mengepal tanganku keras menahan emosi yang tak tertahan. “ Kalian tidak mengatakannya bertahun-tahun, mengapa?”,tanyaku keras.

Magda dengan lebih keras menjawabku dengan terisak.
“ Kamu pikir aku bahagia selama 7 tahun menyimpan rahasia ini? Kamu pikir aku tidak merasa bersalah padamu? Sebelum Ellan bisu, ia meminta pada keluargaku dan keluargamu untuk tidak menceritakan kronologis kecelakaannya. Ellan tidak mau kamu merasa bersalah seumur hidup walaupun itu semua kehendaknya, tapi dia tahu kamu juga sangat menyayanginya. Dia tidak pernah mau membebanimu. Sejak kamu malu mengakui dia adikmu, dia menyadari keadaannya dan berhenti merepotkanmu, bukan?”

Airmataku jatuh perlahan. Ini pertama kalinya aku menangis untuk Ellan.
“ Dan biaya kuliahmu itu sebagian besar hasil kerja Ellan. Dengan kursi rodanya setiap hari dia ke pabrik tempat Almarhum Bapakmu bekerja dulu. Dia menulis surat kepada pimpinan pabrik itu untuk menerimanya bekerja sebagai tukang sapu karena pihak perusahaan tidak menerima orang cacat bekerja menggantikan posisi bapakmu. Ellan adikmu, dia sangat menyayangimu. Harapannya adalah kamu selesai kuliah dan melihatmu menjadi pemain basket yang hebat. Dia sangat ingin melihatmu bermain basket, tapi dulu kamu selalu tidak pernah mau mengajaknya datang ke perlombaanmu”.

Hatiku benar-benar berkecamuk, aku mengusap airmataku dan beranjak dari rumah Magda. Magda membuntutiku dari belakang. “ Aku ikut kerumah sakit”, pinta Magda. Aku mengangguk dan dengan sangat laju aku mengendarai motorku ke rumah sakit.

Di sana, Ellan benar-benar tak berdaya. Hanya alat-alat medis yang membuatnya mampu bertahan. Aku mendekat ke tempat Ellan dibaringkan. Ku peluk tubuh Ellan dan menangis sangat keras meminta Ellan membuka matanya. Aku tidak malu lagi walau di ruangan itu ada Ibu, orang tua Magda, Bibi Lusia dan suaminya.


“ Ellan...bangun Ell. Aku tahu kamu dengar. Kamu dengar kan Ell? Ell ini aku Ell, Aku All... Jangan mati Ell, aku belum sempat minta maaf sama kamu... oh yaa, di tas ku ada basket. Sekarang bangun yah...kamu bisa lihat aku main basket sore ini. Kamu harus tahu kalau sekarang aku lebih jago dari kamu. Maafin aku Ell...maaf!!!”.

Magda mendekati ku, memegang tanganku erat. Segaris air keluar dari mata Ellan yang terpejam. Ellan menangis. Aku melihatnya, aku yakin dia mendengarku. “ Bu..Ibu, Ellan nangis bu...Ellan pasti ba..bangun sebentar lagi. Ibu bujuk Ellan bangun bu..”, pintaku pada Ibu.
“ Magda...bangunkan Ellan... kita kan sudah temanan dari kecil. Dulu kalau aku bertengkar dengannya, kamu yang paling bisa merayu kami untuk baikan lagi. Sekali ini, tolong aku lagi, Magda....”
Semua di ruangan itu menangis. Aku seperti hilang ditelan semua rasa yang tak lagi terdefinisi dalam tubuhku.

Electrocardiograph (mesin deteksi detak jantung) berbunyi sangat cepat, sampai akhirnya terdengar panjang dan terhenti.
Ku goyang-goyang tubuh Ellan. Ellan sudah tidak hidup lagi. Aku peluk tubuhnya, tubuh adikku...saudara kembarku, si cacat yang begitu menyayangiku.

***
25 Desember...
Setelah misa natal, Aku dan Ibu mengunjungi makam Ellan. Ku letakkan piala “Best Player of UNIKOM BASKETBALL COMPETITION” yang kuterima seminggu lalu diatas makamnya. Aku tahu, dari surga ia tersenyum pada kami.

Aku dan Ibu menabur bunga diatas makam Ellan dan Bapak. Tak lama terlihat dari jauh Magda berlari kearah kami. Dengan nafas terengah-engah Magda berkata, “ Aku tidak tahu kalian ada disini juga, tadinya aku ingin pamitan pada kalian dan mengunjugi makam ini. Besok aku akan ke Novisiat Ursulin untuk mengikuti pendidikan biarawati. Aku butuh doa dan dukungan kalian”.

Aku tersenyum pada Magda dan mengatakan harapanku agar Magda mencapai apa yang dia inginkan. Magda pun menyampaikan harapannya agar aku bisa menjadi yang Ellan harapkan dan selalu memperhatikan kesehatan di sela-sela kesibukanku di Yayasan Pembinaan Anak Cacat ( YPAC ) cabang Bandung. Kami pulang bersama ke rumah kami dibawah langit berawan cerah hari itu...


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar