Minggu, 21 November 2010

Lampu Rem Ducati 1098/848


Dijual sajalah: Lampu 2nd ex Ducati 1098, sepertinya bisa juga untuk ducati 848, sepertinya…
kondisi mulus, soket bagus, lampu led mestinya masih menyala, kecuali Yang Maha Kuasa berkehendak lain…oleh karena itu, saya tidak memberikan jaminan. Barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan ya…
Dibuka di harga 448 RR (ribu rupiah), selayaknya di pasar kaget, boleh di nego.
barang ada di Jakarta Selatan, serah terima langsung saja biar enak.
Ayo, yang mau modif2….atau mau punya ducati, mungkin beli lampu remnya dulu buat ,,mancing” hihihi….

Igor Akrapovic: Biangnya Knalpot Racing


Jangan mengklaim suka dunia Balap kalau tidak pernah mendengar nama Akrapovic. Yup, merek salah satu knalpot racing paling sukses di dunia balap internasional.
Sekitar 18 tahun lalu, Igor Akrapovic memulai kariernya sebagai tukang insinyur knalpot. Ia merancang dan membuat knalpot di bengkel kecil di Slovenia. Hari ini, bengkel kecil itu telah berkembang menjadi sebuah perusahaan yang mendunia dan mempunyai 400 orang pegawai. Akrapovic memproduksi hampir semua bagian yang diperlukan untuk menciptomangunkusumokan knalpot-knalpot racing yang bisa ”bersuara” di ajang balap moge dunia, bahkan hingga baut-baut titaniumnya. Menurut Akrapovic, titanium sangat digemari di dunia balap, sebab lebih tahan banting dibandingkan karbon dan berbobot hanya sedikit lebih berat dibandingkan karbon.
Kalau kita berkunjung ke pabriknya di Ivancna Gorica, niscaya kita akan kesulitan menemukannya. Pabrik Akrapovic terlihat sederhana, tanpa umbul-umbul ataupun plang reklame perusahaan berukuran besar. Pabrik berukuran 15000 meter persegi ini hanya memiliki logo kecil yang menandai, bahwa di situlah knalpot-knalpot andalan juara-juara balap dunia diciptakan. Tentunya kesederhanaan ini tidak mencerminkan kesuksesan Akrapovic yang tahun lalu memasarkan 80000 produk dan beromset 31 juta Euro sajalah!! Makro Adamic, sang direktor pabrik berkomentar: kami tidak butuh buang-buang uang untuk membuat iklan, cukup dengan kualitas dan kesuksesan di dunia balap, itu iklan kami!!
Filosofi ini sudah dimulai ketika Igor Akrapovic menciptakan knalpot pertamanya pada tahun 1990. Karena peralatan yang kurang memadai, ia bekerjasama dengan rumah tuning di Bologna yang memproduksi produk after market Ducati. Akrapovic ditugaskan merancang dan memproduksi silincer Knalpot Ducati 888 (angka hokky bgt nih!!).
Pabrikan yang menurunkan pasukannya di WSBK dan pertama kali memesan knalpot Akrapovic adalah Kawasaki pada tahun 1996. Sejak itu, banyak kemenangan di kelas Superbike dan Supersport yang turut menaikkan image Akrapovic hingga akhirnya di tahun 1999 keempat tim pabrikan Jepang mempercayakan Akrapovic menciptakan knalpot untuk jagoannya di WSBK, sebuah cerita sukses yang mendunia. Bahkan pabrikan mobil Ford meminta Akrapovic mengganti nama produknya. Jadi, dulunya knalpot Akrapovic dilabeli:Skorpion. Ford ingin menghindari pertukaran nama dengan produk limousine mereka yang bernama Scorpio. Akrapovic menerima permintaan ini (entah disogok berapa atau bagaimana). Ia mengganti nama perusahaannya, dariSkorpion menjadi Akrapovic. Nama Akrapovic sendiri mengandung kata ”Akrap” dari bahasa Turki yang berarti kalajengking. Oleh karena itu, binatang yang kecil tapi dahsyat ini menjadi logo Akrapovic. Hanya saja warnanya tidak hitam, tapi merah (mungkin kalajengking rebus).
Bro yang punya perkebunan pohon duit mau pesan rancangan sendiri ke Akrapovic?? Eiittss..tunggu dulu, perusahaan ini sudah tidak semudah itu menerima orderan, banyak orderan dari perusahaan seperti KTM dan BMW yang harus ia selesaikan. Bahkan Porsche pun membutuhkan jasa Akrapovic untuk mempersenjatai gacoan mereka: GT2. Untuk memenuhi birahi sembalap klien-kliennya, Akrapovic akhir tahun ini merencanakan hijrah ke kompleks pabrik yang lebih luas lagi: 19000 meter persegi saja. Pabrik Akrapovic saat ini dianggap tidak mampu lagi menampung permintaan pasar. pabrik yang diperlengkapi alat-alat modern untuk membentuk pipa-pipa titanium menjadi knalpot yang digilai joki-joki balap ini hanya mempekerjakan tukang las terbaik untuk menyatukan pipa-pipa titaniumnya. Untuk merancang knalpot racingnya, ia mempekerjakan insinyur-insinyur dari berbagai penjuru dunia. Sekali lagi, kualitas selalu dinomersatukan!
Slavko Trstenjak, mandor departemen pengembangan Akrapovic, menjelaskan, simulasi aliran udara gas buang melalui komputer hanya menjamin 95% saja untuk tenaga yang dihasilkan. 5% lagi harus didapatkan dengan uji coba. Untuk itu, knalpot-knalpot Akrapovic mengalami uka-uka alias uji kekuatan diatas dyno jet. Setelah itu, knalpot dikembangkan kembali dengan perbaikan di sana-sini untuk mengejar tenaga yang 5% ini. Sebuah pekerjaan yang mendetail dan menuntut ketekunan tingkat tinggi. Uji coba diatas dyno jet dilakukan para ahli yang memperhatikan tekanan ban, kelembapan udara, tendangan gas balik, dan emisi yang dihasilkan. Di sisi lain pabrik, para insinyur sibuk merancang desain-desain baru knalpot Akrapovic di lap top, kerja mereka benar-benar seperti seniman!
Kesimpulan: Ayo ngekor Akrapovic!! bukan bikin knalpotnya, tetapi filosofinya:
apapun yang Bro lakukan, jangan kebanyakan ngomong, tunjukkan Kualitas terdepan!!!

Rabu, 17 November 2010

Kegiatan "Nyelapat Taun" GAWAI Dayak

Laporan Kegiatan "Nyelapat Taun"

GAWAI

Pameran dan Lomba Kain Tenun Pada Gawai “Nyelapat Taun” di Rumah Betang Ensaid Panjang, Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang.
Ensaid Panjang, 25-28 Juni 2009


Masyarakat Dayak memiliki tradisi gawai adat yang diselenggarakan sebagai ucapan syukur kepada Penguasa Alam, atas panen yang mereka peroleh. Dalam siklus berladang setiap tahunnya, gawai adat dilaksanakan setelah proses pemanenan padi. Masyarakat Dayak harus mengadakan gawai adat ini agar dapat melakukan aktivitas berladang kembali pada masa berikutnya. Gawai adat ini dalam masyarakat Dayak Desa dikenal sebagai gawai Nyelapat Taun.



Adapun kegiatan yang dilakukan pada gawai Nyelapat Taun adalah upacara ngamik semengat padi. Upacara ini merupakan ritual mendoakan benih padi yang akan ditanam, dengan harapan dari benih padi tersebut kegiatan berladang di masa yang akan datang dapat menghasilkan panen yang melimpah dan terhindar dari segala marabahaya. Disamping mengadakan upacara ngamik semengat padi, masa-masa gawai biasanya juga dimanfaatkan masyarakat untuk saling berkunjung (berandau) ke rumah-rumah tetangga dan keluarga mereka dalam rangka silahturahmi (ngabang) untuk memperkuat rasa persaudaraan.



Pada tanggal 26-28 Juni 2009, masyarakat Dayak Desa di Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang, mengadakan kegiatan gawai Nyelapat Taun yang dipusatkan di Rumah Betang Ensaid Panjang. Masyarakat Ensaid Panjang mengadakan berbagai kegiatan, seperti upacara adat “ngamik semangat padi” dan aktivitas berandau ke masing-masing bilik di rumah betang. Untuk memeriahkan gawai, panitia pelaksana gawai bekerja sama dengan PRCF Indonesia mengadakan pameran dan perlombaan kain tenun ikat Dayak. Sebagaimana diketahui, perempuan Dayak Desa yang sebagian besar menghuni rumah betang Ensaid Panjang memiliki keterampilan dan tradisi menenun. Pameran kain tenun ikat di rumah betang Ensaid Panjang diadakan untuk mempromosikan budaya yang dimiliki masyarakat Dayak Desa tersebut. Sedangkan lomba kain tenun diadakan untuk mendorong semangat dan motivasi penenun dalam membuat kain tenun dengan pencelupan pewarna alam.


Partisipasi PRCF Indonesia dalam kegiatan gawai adat di rumah betang Ensaid Panjang ini merupakan bagian dari penguatan hubungan dan kemitraan antara PRCF Indonesia dengan masyarakat Desa Ensaid Panjang. Selama ini, PRCF Indonesia telah melaksanakan beberapa program di Ensaid Panjang, antara lain program revitalisasi tenun ikat Dayak, program budidaya tanaman pewarna alam, program dampingan perempuan usaha kecil (PUK), dan program peacebuilding melalui promosi nilai-nilai lokal dalam membangun perdamaian. Dukungan PRCF Indonesia pada gawai adat masyarakat Dayak di Rumah Betang Ensaid Panjang ini adalah investasi sosial, sekaligus refleksi implementasi program guna perbaikan dan pengembangan program PRCF Indonesia di Desa Ensaid Panjang. Potensi alam dan sosial budaya yang dimiliki masyarakat Desa Ensaid Panjang menjadikan desa ini potensial menjadi pilot projek PRCF Indonesia untuk saat ini dan di masa yang akan datang.

Kain Tenun Ikat Dayak Sintang, Kalimantan Barat.

Kain Tenun Ikat Dayak

Pada akhir tahun 80an, kain tenun ikat Dayak, yang di kalangan kolektor dianggap sebagai salah satu kain terindah di dunia, menjadi semakin langka. Kain-kain terbaik dan tua dijual keluar
daerah. Para penenun ahli semakin tua dan jumlahnya semakin sedikit, sementara keahliannya tidak diturunkan dan terancam punah. Kemiskinan juga berperan dalam pupusnya tradisi menenun. Tulisan ini menceritakan bagaimana upaya memperkuat kapasitas perempuan berhasil memperkuat ekonomi keluarga dan menghidupkan kembali tradisi memenun kain ikat Dayak di Sintang, Kalimantan Barat.

Sintang: Masyarakat Petani dan Peladang Kabupaten Sintang merupakan satu dari 12 kabupaten di Propinsi Kalimantan Barat. Terletak kurang lebih 395 Km dari Ibukota propinsi, Pontianak, dan berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia, Sintang dapat dicapai dari Pontianak melalui jalan darat dengan waktu tempuh sekitar 9 jam. Kabupaten seluas 22.113 km2 atau 15 % dari luas total Propinsi Kalimantan Barat ini dihuni oleh 490.359 penduduk dimana 49% diantaranya adalah perempuan. Tingkat kepadatan penduduknya mencapai 22 jiwa/km2.

Mayoritas masyarakat Sintang berasal dari etnis Dayak. Mereka tersebar di sepuluh kecamatan dan tinggal di kampung-kampung yang masih terbatas aksesnya terhadap transportasi, pendidikan, kesehatan maupun pasar. Sebagian besar penduduk bekerja sebagai petani dengan mengelola lahan untuk ladang, kebun karet, dan kebun buah-buahan. Dari berladang, penduduk memperoleh beras sebagai makanan pokok. Akan tetapi hasil berladang cenderung menurun karena lahan yang dapat dikelola menjadi ladang semakin sedikit dan semakin jauh lokasinya. Hasil panen dalam setahun rata-rata hanya bisa memenuhi kebutuhan untuk 3 sampai 5 bulan saja. Hanya beberapa kepala keluarga saja yang hasil panennya cukup untuk kebutuhan satu tahun.

Peran perempuan dalam kegiatan pertanian ini sangat besar. Hampir 70% dari rangkaian kegiatan berladang dilakukan oleh perempuan. Mulai dari persiapan lahan, menyemai, menanam, memelihara, hingga panen. Sedangkan kaum laki-laki biasanya hanya terlibat dalam mempersiapkan lahan, menebang dan sesekali memanen. Selebihnya mereka bekerja di luar sektor pertanian. Pekerjaan perempuan tidak terbatas pada urusan berladang saja. Mulai pukul empat pagi mereka sudah harus ke kebun karet untuk menoreh hingga pukul 10 atau 11 siang. Siang hari mereka kembali ke ladang untuk memelihara tanaman padi dan sayur. Dan baru pulang ke rumah pada sore hari untuk membenahi rumah dan menyiapkan makan malam. Dari menoreh karet, mereka memperoleh sedikit penghasilan tambahan. Akan tetapi harga karet
sangat fluktuatif dan posisi tawar petani sangat lemah. Penghasilan tambahan lainnya diperoleh dari membuat anyaman dan tenunan.

Seni Budaya Tenun Ikat Dayak dalam Krisis Kain tenun ikat Dayak merupakan salah satu seni budaya yang dikembangkan oleh komunitas etnis Dayak di Kalimantan Barat.
Etnis Dayak merupakan etnis tertua yang mendiami pulau Kalimantan. Mereka tersebar di sebagian besar Kalimantan, Sarawak dan Brunei. Namun tidak semua sub-etnis Dayak ini dapat
melakukan kegiatan menenun. Sub-etnis Dayak Iban, Kantuk, Desa, Ketungau dan Mualang di Kalimantan Barat dikenal sebagai penghasil kain tenun tua. Di kalangan kolektor, kain tenun ikat
Dayak sering dianggap sebagai salah satu kain terindah yang ada di dunia.
Tenun ikat adalah sebuah teknik menenun dimana pola kain dibuat dengan mengikat benang dengan benang penahan celup. Benang yang telah diikat ini dicelup berkali kali untuk memperoleh pola yang diinginkan. Benang yang telah berpola ini lalu ditenun. Teknik
ikat disebut sebut sebagai teknik celup tertua di dunia. (Gillow, 1999) Pada dengan akhir tahun 1980-an kain tenun ikat sudah semakin sulit dijumpai. Banyak kain tua yang dijual kepada pembeli dari luar seiring dengan populernya kain ini di Eropa dan Amerika. Di lain pihak, penenun semakin sulit dijumpai di kampung-kampung. Orang-orang tua yang pintar menenun sudah semakin berkurang, dan keahliannya tidak diturunkan kepada generasi muda. Kain-kain tua hanya bisa dijumpai pada keluarga-keluarga yang masih menghargai kain sebagai warisan nenek moyang yang harus disimpan.

Menghidupkan Kembali Tenun Ikat Dayak

Prihatin akan keadaan ini, pemerintah setempat dan individu (seperti Pastor Jacques Maessen) secara perlahan mulai membangun beberapa kegiatan kecil melibatkan beberapa orang atau keluarga yang masih mau dan tertarik untuk menghidupkan kembali kegiatan menenun. Berbagai pendekatan dilakukan, namun perkembangannya terasa lamban karena masyarakat tidak bisa menerima begitu saja arahan dari orang luar untuk mengubah kebiasaan atau pola hidup mereka.
Pada tahun 1999, beberapa organisasi non pemerintah (NGO) membangun kolaborasi (Yayasan KOBUS – PRCF/PRCF Indonesia – YSDK, atas dukungan Ford Foundation) dan mulai terlibat untuk menghidupkan kembali kegiatan menenun sebagai upaya alternatif untuk meningkatkan pendapatan keluarga, sekaligus untuk melestarikan seni budaya menenun itu sendiri. Upaya ini dibangun melalui suatu program yang dinamakan ”Restorasi Tenun Ikat Dayak”.
Setelah beberapa tahun kemudian, apa yang terjadi? Lain ulu’ lain parang, lain dulu lain sekarang. Sintang kini dikenal karena kain tenun ikatnya. Orang Sintang bangga mengkoleksi dan memakai kain tenun ikat, dan kain bermutu tinggi mudah ditemukan, semudah menemukan komunitas penenun yang begitu bergairah menenun di sela-sela kegiatan sehari-harinya. Bahkan pada tahun 2006 lembaga yang mewadahi kegiatan masyarakat ini, Koperasi Jasa Menenun Mandiri memperoleh penghargaan dari Menteri Perindustrian.
Sebelumnya, pada tahun 2002 program ini menjadi salah satu nara sumber pada Workshop on Best Practice Cases Studies of Regional Development Activities with Local Initiatives yang diorganisasikan oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Center for Economic and Social Studies (Cess) di Pontianak, Kalimantan Barat.

Program Pemberdayaan

Apa yang telah dicapai masyarakat Sintang ini tidaklah serta merta terjadi dalam waktu singkat. Pada tahap awal program ini, beberapa hal dicoba dipetakan, yakni (a) jumlah penenun, (b)
sebaran penenun, (c) tingkat keahlian penenun, (d) produktivitas penenun, dan (e) pemasaran kain hasil tenunan. Mulanya tercatat sekitar 40-an orang penenun yang tersebar di lima
kampung, yakni Ensaid Panjang, Baning Panjang, Ransi Panjang, Umin dan Menaung. Dari sekian banyak penenun tersebut, hanya belasan orang saja yang benar-benar ahli yang umumnya telah berumur di atas 45 tahun.
Ditemukan juga bahwa produktivitas penenun relatif rendah. Untuk membuat selembar kain pua, diperlukan waktu antara 6 sampai 12 bulan. Namun hal ini bukan disebabkan oleh keterampilan yang rendah, tetapi karena mereka hanya menenun di waktu senggang
disela-sela kegiatan berladang. Disamping itu ada juga aturan tidak tertulis (tradisi oral) yang mengatur penenun dan kegiatan menenun. Sementara itu pemasaran hampir tidak dikenal karena kain tenun ini memang bukan untuk dijual melainkan untuk dipakai pada upacara atau pesta adat. Kain baru dijual kalau ada pembeli atau pengumpul yang datang ke kampung.
Para penenun yang teridentifikasi ini mulai dimotivasi melalui pembelajaran kritis untuk memberdayakan diri mereka. Mereka diajak memahami permasalahan yang dihadapi, dan menggali potensi yang mereka miliki, hingga akhirnya pada tahun 2000 masyarakat sepakat untuk berhimpun dalam kelompok yang dinamakan Kelompok Usaha Bersama Jasa Menenun Mandiri (KUBJMM).
Berbagai penguatan diberikan kepada pengurus dan anggota KUBJMM ini. Para pengurus dan wakil-wakil anggota di setiap kampung dibekali dengan pengetahun manajemen, pembukuan, dan fasilitas untuk menjalankan kegiatan simpan-pinjam dan pembelianpemasaran kain tenun ikat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, pada tahun 2001 kelompok ini diubah menjadi berbadan hukum Koperasi.

Koperasi JMM ini terus berkembang. Pada akhir Januari 2006, anggotanya telah mencapai 524 orang yang tersebar di 20 kampung, dengan asset per 31 Desember 2005 sebesar Rp302.899.781,00. Koperasi ini semua pengurusnya terdiri dari kaum perempuan, dan anggotanya 98% (515 orang) adalah kaum perempuan. Jadi bisa dibayangkan aktivitas para perempuan penenun di Sintang ini, mereka tidak saja bekerja di rumah, di ladang, dan di kebun, tetapi saat ini dengan segala keterbatasannya, mereka telah mengorganisasikan diri dan menghasilkan sesuatu yang berarti. Kain tenun ikat yang mereka hasilkan tidak saja telah memberdayakan mereka secara ekonomi, tetapi juga telah menghidupkan dan melestarikan seni budaya tenun ikat Dayak itu sendiri.

LAMBANG DAERAH KABUPATEN SINTANG DAN ARTINYA

LAMBANG DAERAH

 Berdasarkan Perda No. 1 Tahun 1971 mengenai bentuk, warna dan makna lambang daerah Kabupaten Sintang.
Lambang Daerah Kabupaten Sintang terbagi atas 4 bagian yaitu :
  1. Bentuk Lambang secara keseluruhan adalah Perisai bersudut lima.
  2. Perisai, Mandau, Sumpit bertombak, gunung, buah karet, buah tengkawang dan ikan.
  3. Padi, kapas, dan bintang bersudut lima.
  4. Tulisan Kabupaten Sintang diatas pita berliku.
Bentuk keseluruhan dari lambang daerah ialah Perisai bersudut lima yang berarti Pancasila dimaksudkan Kabupaten Sintang adalah bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
  • Warna yang dipakai pada lambang daerah ada 7 yaitu : hijau tua, biru muda, biru tua, kuning emas, merah, putih perak dan hitam.
  • Warna dasar adalah hijau tua dan biru muda.
  • Hijau Tua menunjukkan kesuburan tanahnya, biru muda menunjukkan kesuburan air/sungai.
  • Warna Perisai dan sumpit bertombak adalah hitam berpinggir putih perak dimaksudkan bahwa pusaka-pusaka ini mengandung kekuatan dan suci murni.
  • Warna Mandau adalah putih perak berarti bahwa pusaka ini suci dan hanya digunakan untuk membela kebenaran. 
  • Perisai, mandau dan sumpit bertombak adalah melambangkan pusaka dan kebudayaan putera-putera daerah Kabupaten Sintang.
  • Gunung melambangkan Bukit Kelam yang menjadi kebanggaan dan keagungan rakyat Kabupaten Sintang.
  • Buah karet, buah tengkawang dan ikan melambangkan suatu sumber penghidupan rakyat Kabupaten Sintang disamping bertani.
  • Padi dan Kapas melambangkan tujuan rakyat Kabupaten Sintang khususnya dan tujuan negara kesatuan Republik Indonesia umumnya untuk cukup sandang dan pangan. Padi berjumlah 17 buah dan kapas berjumlah 8 buah menunjukkan tanggal Kemerdekaan Negara Kesatuan republik Indonesia.
  • Bintang Bersudut Lima melambangkan Pancasila yang berarti bahwa Pancasila merupakan falsafah dan ideology yang tertanam dalam setiap jiwa rakyat Kabupaten Sintang khususnya dan Bangsa Indonesia Umumnya.
  • Tulisan Kabupaten Sintang dengan warna hitam diatas dasar warna kuning mengandung arti bahwa masyarakat dan pemerintah Kabupaten Sintang mempunyai pendirian kuat, teguh dan sentosa baja untuk membawakan rakyat/masyarakat Kabupaten Sintang dari alam kegelapan menuju alam yang terang penuh keagungan.
  • Di bawah tulisan Kabupaten Sintang terdapat bintang bersudut lima yang melambangkan bahwa masyarakat dan pemerintah Pemerintah Kabupaten Sintang tetap berdasarkan Pancasila. 
  • Liku-liku pada pita-pita kain sutra berwarna kuning emas menunjukkan liku-likunya perjuangan untuk merebut kemerdekaan dan mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila..

GERBANG EMAS JAKARTA SELATAN

GERBANG EMAS (Gerakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat)

Sebagaimana diketahui bahwa Visi Kabupaten Sintang adalah" Terwujudnya Masyarakat Kabupaten sintang Yang produktif, Berkualitas, Sejahtera dan Demokratis" yang kemudian dioperasionalisasikan dalam Misi Pembangunan Kabupaten Sintang Tahun 2006-2010, yaitu:
  • Memberdayakan potensi usaha ekonomi kerakyatan yang mengarah pada kemampuan produksi dan pemasaran.
  • Meningkatkan peluang untuk mendapatkan pekerjaan dan usaha produktif.
  • Melaksanakan pembangunan daerah yang serasi dan seimbang dengan memacu pertumbuhan ekonomi dan didukung dengan percepatan pembangunan infrastruktur.
  • Meningkatkan pembangunan infrastruktur transportasi secara terpadu dan menyeluruh.
  • Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan dan lingkungan hidup, serta pembinaan generasi muda, seni budaya dan kegiatan keagamaan.
  • Meningkatkan pelayanan publik dengan memperhatikan tuntutan dan dinamika masyarakat dalam suasana demokratisasi, desentralisasi, dan otonomi daerah.
  • Menerapkan asas, prinsip, standar dan pola penyelenggaraan pelayanan publik.
  • Menegakkan supremasi hukum dan HAM.
Berdasarkan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Visi dan Misi tersebut, maka untuk mewujudkannya ditempuh melalui 4 (empat) Strategi Pokok Pembangunan Daerah Kabupaten Sintang yang antara lain: Pemenuhan Kebutuhan Dasar (Human Basic Needs Strategi), Strategi Percepatan Pembangunan Infrastruktur Dasar (Basic Infrastructure Development Strategi), Strategi Perluasan Investasi (investment Development strategy) dan Strategi penciptaan Kesempatan Kerja (Creating Productive Employment Strategy).

Terkait dengan upaya pencapaian Visi, Misi dan Strategi tersebut ada 4 (empat) agenda pokok Pembangunan Kabupaten sintang Tahun 2006-2010, yaitu:
  1. Agenda mewujudkan masyarakat Kabupaten SINTANG yang Produktif.
  2. Agenda mewujudkan masyarakat Kabupaten SINTANG yang Berkualitas.
  3. Agenda mewujudkan masyarakat Kabupaten SINTANG yang Sejahtera.
  4. Agenda mewujudkan masyarakat Kabupaten SINTANG yang Demokratis.
Dalam upaya mewujudkan masyarakat kabupaten sintang yang produktif, berkualitas, sejahtera dan demokrastis dibutuhkan langkah-langkah yang lebih konkrit dan langsung menyentuh kepada kepentingan publik (masyarakat kabupaten sintang khususnya) melalui suatu aksi atau gerakan yang sistematis dan komprehensif. Gerakan tersebut dimanifestasikan dalam bentuk kebijakan Gerakan Pembangunan Ekonomi Masyarakat ( GERBANG EMAS).

Apa itu GERBANG EMAS ?

Gerakan Pembangunan Ekonomi Masayarakat (GERBANG EMAS) merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah bersama-sama seluruh komponen masyarakat dalam rangka meningkatkan aksesibilitas terhadap pemanfaatan dan pengembangan sumberdaya - sumberdaya ekonomi secara optimal sehingga dapat mendukung peningkatan kapasitas ekonomi, sosial dan lingkungan fisik.

GERBANG EMAS merupakan suatu kebijakan yang berpihak kepada masyarakat miskin dan tertinggal (Pro Poor Policy) agar dapat maju berkembang dan sejahtera ( Pro Growth Policy). Dalam implementasinya gerakan ini dilandasi oleh prinsip-prinsip pemberdayaan, partisipasi dan kesetaraan. Sedangkan pendekatan dalam pelaksanaannya dilakukan secara menyeluruh (comprehensif) meliputi seluruh aspek kehidupan yang menjadi kebutuhan masyarakat setempat berdasarkan konsep dari, oleh, dan untuk masyarakat (DOUM), dan terpadu (Integr ated) yang meliputi keterpaduan antara kebijakan dan aspirasi masyarakat dalam aspek perencanaan, keterpaduan berupa sinkronisasi kegiatan, keterpaduan antar wilayah, keterpaduan antar berbagai sumberdaya dan keterpaduan dalam pelaksanaannya.

Kebijakan Gerbang Emas, pada tataran implementasinya dituangkan dalam bentuk Program yang dikenal dengan sebutan JAKARTA SELATAN ( kependekan dari : Jalan, Karet, Tanaman Pangan, Sekolah dan Kesehatan). Penjelasan terhadap program Jakarta Selatan adalah sebagai berikut:
  1. Jalan, merupakan simbol infrastruktur yang harus dibangun, diperbaiki dan dibenahi dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Jalan sebagai simbol yang juga mewakili infrastruktur lainnya berupa jembatan, pelabuhan sungai, bandar udara, serta infrastruktur yang terkait dengan barang dan jasa.
  2. Karet, merupakan simbol yang mewakili perkebunan dan kehutanan. Pembenahan sektor perkebunan di titik beratkan pada perkebunan rakyat melalui penerapan teknologi dan bibit unggul. Sedangkan pada sektor kehutanan, yang menjadi perhatian dalam program ini terutama pengembangan hutan rakyat dan tanaman industri melalui kearifan lokal yaitu memanfaatkan lahan dengan cara menanam tanaman yang memiliki nilai ekonomi produktif seperti: gaharu, meranti, dan buah-buahan lokal ( durian, kemantan, cempedak, rambutan dan sebagainya).
  3. Tanaman Pangan, merupakan simbul yang mewakili pertanian secara umum seperti tanaman padi, palawija, perikanan dan peternakan.
  4. Sekolah, merupakan simbol yang mewakili pembangunan dibidang pendidikan, dalam rangka mencetak SDM yang berkualitas dan memiliki keunggulan kompetitif.
  5. Kesehatan, merupakan simbol yang mewakili "gaya hidup sehat". yang menjadi titik perhatian program ini adalah pengembangan dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat serta mensosialisasikan kepada masyarakat untuk berprilaku hidup sehat.

Istana Kerajaan Sintang

Lokasi, transportasi dan akomodasi
Sintang merupakan eks sebuah kerajaan dengan sebuah istana sebagai peninggalannya. Istana ini dibangun pada tahun 1839 dan sampai sekarang masih utuh terdiiri dari satu buah bangunan induk dan dua buah paviliun. Bekas Istana Kerajaan Sintang saat ini dikelola oleh Pemkab Sintang tersebut terletak dipinggir Sungai Kapuas dan dimanfaatkan untuk menyimpan benda-benda peninggalan sejarah baik benda bersejarah peninggalan kerajaan maupun peninggalan lainnya.
Cara menjangkau :
Nama objek               : Istana Kerajaan SintangDijangkau dari            : Di ibukota KabupatenKendaraan                 : Jalur SungaiFasilitas                    : -Keterangan                : 10 menit menyeberangi sungai Kapuas
Download sekarang MP3nya